Rabu, 31 Desember 2014

Cinta Anak SMP



Cinta anak SMP
      Hai... Aku Cinta. Buatku, sekolah itu tempat sejuta kenangan, aku punya banyak kenangan waktu masih SD, dan kenangan yang gapernah aku lupain itu, saat aku bertemu dengan satu orang teman, namanya Rara. Iya Rara! Sekarang dia menjadi sahabat, bahkan sampai saat ini hehehe. Seneng deh! Bisa satu sekolah lagi sama Rara. Rara itu pinter, cantik, manis, asik. Pokoknya dia bisa di bilang sempurna untuk anak perempuan suisia kita, beda banget deh sama aku. Kalo kata orang sih aku ini galak hehe maklum lah ya, aku ini paling males di godain sama cowo-cowo gajelas, sampe-sampe Rara bilang “gimana lo mau laku, galak sih sama cowo. Bisa-bisa nih ya, lo jadi perawan tua cin..!” haha.
      Pagi ini, aku datang kesekolah agak pagi, karena ada rapat tim basket di sekolah. Dari jauh aku lihat sudah banyak yang kumpul di ruang rapat. Karena aku takut di hukum, aku segera lari secepat yang aku bisa.
“kak maaf aku telat!” aku sambil mengatur nafas karena lari tadi
“yaudah cepat duduk, rapat segera dimulai” kata salah satu seniorku.
Pukul  7.15 rapatpun selesai. Karena hari ini ulang tahun sekolah, KBM di tiadakan dulu.. katanya sih mau ada acara classmet gitu deh.
“cintaaaaa!!!!”
Baru saja aku sampai kelas, udah kedengeran aja tuh suara teriakannya Rara yang cetar membahana bingitz! Haha
“apa sih raa?? Udadehh.. gausah heboh gituu” kataku sambil melirik
Rara langsung menarik kepalaku dan membisikanku sesuatu, sesuatu ituu...
“hah? Seriusss????? Aaaaaa”
Yang tadinya suasanya kelas krik abis alias sepi bangett.. tiba tiba aja kabar dari Rara bikin aku jadi heboh sendirian.. Rara bilang... Ka Dika tadi dateng ke kelas buat nyariin aku... hehehe aduh jadi malu deh heboh sendirian di liatin temen-temen hehehe abisnyaa... aku terlalu bersemangat sihh.
***
“hmm ka Dika!” aku menyentuh bahunya karena posisinya, aku di belakang ka Dika.
“eh, cinta! Akhirnya ketemu lo juga. Gue mau ngasih tau sesuatu penting nih”
“apa ka?”
“lo ketua panitia pensi kan? Tolong di catet ya, akilla mau ngisi aca di pensi nanti. Yaudah gue cabut dulu ya”
Ish, kirain ada apa, gataunya Cuma gitu doang. Lagipula akilla kan bisa langsung ngomong ke aku, memangnya akilla siapanya ka Dika sih. Sampe segitunya. Sebel!
Aku balik lagi ke kelas untuk ketemu sama Rara, yang tadinya aku seneng banget, sekarang suasana hati bener-bener berubah drastis. Ka Dika gatau apa, aku ini suka sama dia. Akhirnya aku cerita semua yang terjadi tadi waktu aku ketemu ka Dika, karena emang cuma Rara yang selalu ngerti perasaan aku ke ka Dika. Aku bener-bener berhatap kalau Rara juga berfikiran yang sama dan dia akan bilang “Ih! Memangnya akilla itu siapanya ka Dika sih!” atau apalah kata-kata yang menyenangkan hatiku dan sedikit membalaku. Tapi ternyata Rara bilang “ya jelas aja, kan mereka jadian” kalian tau gak sih? Perasaan aku saat denger berita kaya gitu? Rasanya sakit. Rara bilang, dia tau karena tadia dia ngestalk twitternya ka Dika. Aku langsung buru-buru ngambil handphone di tas dan ngecek apa bener yang di bilang Rara, aku berharap kalau Rara lagi ngerjain aku. Tapi ternyata... “akilla ardina’s19.9” itu tulisan yang ada di bio twitter ka Dika, “ardikatama’s19.9” dan itu yang ada di bio akilla. Aku langsung lari ke toilet sekolah, aku gamau orang-orang lihat aku lagi nangis di kelas Cuma gara-gara cowo yang aku suka dari satu tahun yang lalu jadian sama orang lain.
“udah jangan nangis Cinta.. “
“gima ague ga nangis Ra.. Cowo yang udah dari kelas 7 gue taksir, sekarang jadian. Gue gapunya harapan lagi Ra”
“ya bukan salah dia kan??? Dia gatau kalo cinta lo tuh ada.. lo harus kasih tau..”
“supaya apa? Supaya gue malu?!”
“supaya perasaan lo lega! Supaya dia tau kalo cinta lo ada! Satu lagi, supaya lo ga di bilang pengecut!”
Rara bener, harusnya gue berani bilang kalo gue cinta sama ka Dika. Dan seharunya gue ga bentak dia kaya tadi. Gue harus berani jujur sama perasaan gue. Harus! Oke semangat Cinta!
***
“Ka Dika, aku suka sama kakak. Dari awal aku liat kakak main gitar di acara pembukaan MOS waktu itu. Mungkin kakak bakal fikir aku ini gila, tiba-tiba dateng di hadapan ka Dika dan langsung bilang suka. Tapi aku gamau nyimpen perasaan lama-lama ke ka Dika, kalau aku ga bilang sekarang, kesempatannya ga akan ada lagi. Dulu aku gapercaya sama cinta pada pandangan pertama. Tapi sekarang aku udah ngerasain fersi cinta yang itu kak”
Aku gatau harus gimana, aku gatau harus ngomong apa, tiba-tiba aja semua kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku gatau apa ini benar aku yang berbicara.
Ka Dika ga ngerespon omongan aku tadi, dia malah diam membisu kaya patung. Aku jadi malu, aku gatau sekarang pandangan Ka Dika ke aku kaya gimana. Akhirnya aku milih buat pergi, tapi sayangnya tanganku di tahan saat ingin pergi.
“lo udah nyatain cinta ke gue, sekarang lo mau pergi? Emangnya lo gamau denger jawaban gue?”
“kalo gamau di jawab gapapa, seenggaknya aku udah berani” aku lepaskan tangannya yang menempel di tanganku dan segera pergi.
“tunggu Cinta!”
Aku berhenti ketika mendengar suara lantang itu, tapi seharusnya aku tidak berhenti, tapi entah kenapa suara itu seperti menghipnotis kakiku untuk berhenti
“kenapa baru bilang sekarang? Gue juga suka sama lo, tapi itu dulu. Sekarang gue punya akilla. Lo cewe yang baik, lo panter dapet yang terbaik. Tapi makasih udah sayang sama gue selama itu”
Kenapa aku malah nangis waktu denger kata-kata ka Dika yang itu, aku gatau aku nangis karena menyesal tidak bilang dari dulu atau karena dia memilih akilla.
***
“Ra.. maaf yah tadi gue bentak lo”
“gue denger lo udah nyatain perasaan ke ka Dika?”
“iya”
Rara langsung memelukku, aku juga membalas pelukan Rara. Rara bener, ka Dika ga akan tau kalau di sini aku mencintai dia kalau akunya aja gapernah bilang.
Guys, cinta itu kaya nasi, kalau di diemin lama-lama ya akan basi. Kalo mau enak harus bikin lagi. Sama kaya cinta, kalo di diemin lama-lama bisa abis lho masa berlakunya hahaha. Kalo cinta bilang yah.

Selasa, 30 Desember 2014

Secret Admirer


Suatu hari aku pergi ke salah satu toko buku di jakarta, aku memang berniat membeli novel "Secret admirer" judul novel itu menarik minatku, kubaca sinopsis pendek novel yang ada di belakang cover.
Aku tidak pernah mengerti, bagaimana perasaan ini bisa terjadi. Aku tidak pernah meminta, meminta untuk menyangimu. Tuhan... Aku tidak pernah tahu, siapa dirinya, aku tidak mengerti, hanya dengan melihat senyumannya. Rasa itu... Ada. Mungkin aku salah, karena menyayangi seseorang yang sama sekali tidak mengenalku. Tapi rasa ini, membuat aku mengenalmu. Rasa ini membuat aku hafal bagaimana caramu berbicara, tertawa, berjalan, dan tersenyum. Rasanya aku tidak ingin melihatmu tersenyum, tapi bukan berarti aku tidak ingin kamu bahagia. Karena senyummu yang selalu membuatku jatuh cinta. Yudha.. Aku harap kamu tidak akan pernah tahu, siapa aku. Aku tidak berharap kamu akan membalas perasaanku.
Aku yakin, itu surat yang pernah aku tulis untuknya. Saatku lihat biodata penulis "Yudha Ardikatama".
4 tahun yang lalu.
Seperti biasa, sejak 2 bulan yang lalu, aku selalu mengikutinya setiap pulang sekolah. Setiap hari aku datang pagi-pagi sekali untuk menaruh puisi di atas mejanya. Dan bukan hanya mengikutinya setiap pulang sekolah dan mengirimkan puisi, aku juga suka memperhatikannya di sekolah. Ada beberapa hal yang aku tau tentangnya, seperti dia suka makan permen lollipop setiap jam istirahat, dia suka duduk di kursi depan kelasku, dia juga suka olahraga basket, aku juga sudah sangat hafal dengan cara berjalannya, caranya berbicara, caranya tersenyum dan tertawa. Aku menyukainya, tetapi aku tidak ingin dia tahu tentang perasaanku.. aku takut dia akan menjauh dan aku tidak bisa memperhatikannya lagi.
“Gadis...”.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara lantang dari arah belakangku, sudah ku duga, dia pasti Ara. Sahabatku sejak pertama masuk sekolah, kami berkenalan saat pembukaan MOS waktu itu.
Karena mendengar suara itu, aku menoleh kearah belakang dan mencari sumber suara tersebut, tiba-tiba saja aku melihat lambaian tangan Ara untukku. Aku tersenyum kepadanya dan mengisyaratkan agar dia mendekat denganku. Dan ketika Ara hampir mendekatiku, aku kembali menoleh kearah sebelumnya untuk mencari Yudha. Iya Yudha, laki-laki yang aku sebut-sebut tadi. Mataku melirik-lirik mencari keberadaan Yudha, tapi ternyata dia sudah menghilang.
“Nyari siapa sih Dis?”.
“Hah? Bukan siapa-siapa kok, Ra”.
Aku benar-benar tidak ingin ada satu orangpun yang tahu kalau aku menyukai laki-laki itu. Bahkan sahabatku saja tidak tahu, hanya aku, diary, dan Tuhan yang tahu.
***
Aku bahagia dengan hidupku yang seperti sekarang, yang menjadi pengagum rahasianya Yudha. Hmm.. memperhatikan setiap tingkah lakunya menajdi kesenangan tersendiri untukku. Dan rasanya aku tidak ingin berhenti mengaguminya, mungkin aku seperti orang bodong, atauu... aku bodoh karena cinta ya? Hmm apa iya ini cinta? Entahlah.. Yang jelas, aku tidak ingin dia berhenti tersenyum, karena senyumnya selalu membuat aku..... Jatuh Cinta.
Diary ini seperti saksi bisu tentang perasaan ku selama 2 bulan ini. Saat aku sedang duduk di halaman rumah, tiba-tiba saja ada telfon dari Bima salah satu teman sekelasku.
“Iya Bim? Ada apa?”.
“Maaf Gadis, ini Yudha.”.
Apa? Yudha? Aku gasalah dengar kan? Untuk apa dia menelfonku menggunakan handphone Bima?
Tiba-tiba saja banyak sekali pertanyaan di kepalaku.
“Yudha? Ada apa?”.
“Aku mau minjem buku novel yang kamu pinjam di Bima, boleh?”.
Oohh.. ternyata dia hanya ingin meminjam buku milik Bima, pantas saja dia menggunakan Handphone Bima. Ucap Batinku
“Baiklah, besok akan ku titip di Bima”.
***
Keesokan harinya, saat aku sudah sampai di sekolah, Ara memanggilku dari jauh, akupun segera menoleh dan mencari sumber suara tersebut. Dia melambaikan tangannya dan berlari kerahku.
"Hai Ra.. Kayanya hari ini ada yang lagi seneng banget yaaa..". Kataku sedikit meledeknya.
"Ah, tidaakk... Oiya, aku ingin memberitahumu, kalau sekarang aku sudah punya pacar lhooo...".
"Oya? Siapa? Cie Araaa...". Aku dan Ara tertawa di jalan seperti orang aneh.
"Namanya Yudha.. Itu lho yang anak XI IPA 2". Aku terdiam saat mendengar kabar itu.
Aku berhenti berjalan, membiarkan sahabatku berjalan sendiri. Bibirku bergetar, wajahku berubah menjadi pucat, aku bisa merasakan di seluruh tubuhku terasa sangat dingin. Kupejamkan mata sejenak, berharap saat aku membuka mata, aku terbangun dari mimpi ini. Tapi ternyata, saat aku membuka mata, setetes air dari mata itu mengalir. Aku membalikan tubuhku, aku berlari menuju gerbang sekolah, aku ingin pulang. Aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan sangat keras, aku tahu itu adalah Ara.
Maafkan aku Ara, aku tidak bermaksud mengabaikanmu, aku hanya tidak ingin kamu tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Ucap batinku.
Sesampainya aku dirumah, aku segera berganti pakaian. Untung saja ibu lagi diluar kota ucap batinku. Saat aku ingin mengambil minum, terdengar suara telefon.
*mengangkat telfon*
"Hallo..".
"Gadis, tadi gurumu menelfon ibu, katanya kamu tidak sekolah hari ini. Memangnya ada apa?". Aku tahu, ibuku menelfon bukan karena berfikiran yang tidak-tidak tentang anaknya ini. Melainkan, karena dia sedang khawatir.
"Iya ibu.. Tiba-tiba saja Gadis tidak enak badan.. Makanya tadi Gadis tidak sekolah".
"Yasudah, kalau begitu.. Ibu minta maaf ya, ibu tidak bisa merawat kamu sekarang..".
"Iya bu.. Gapapa".
"Yasudah, kamu hati-hati ya Dis dirumah".
"Iya, Ibu juga hati-hati ya di sana".
***
"Dis, kemarin kenapa sih kamu pulang?". Kata Ara khawatir.
"Aku gapapa Ra, cuma gaenak badan aja". Kataku nyaris tidak terdengar.
"Ohh.. Gitu, kamu tahu tidak? Bima itu menyukaimu". Kata Ara berbisik. Aku terkejut mendengar kabar yang menurutku tidak baik, iya itu tidak baik.. Bima adalah sahabatku, selain Ara. Mana mungkin Bima menyukaiku. Ucap batinku.
"Ra, aku ketoilet dulu".
"Lho? Kok malah pergi sih?".
***
"Gadis, ko bengong?". Aku mendengar ada suara yang aku kenal, suara itu. Tidak, itu bukan Yudha, tapi Bima.
"Bima? Gapapa kok". Jawabku tersenyum, nyaris terpaksa.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Dis".
Hah? Bima ingin berbicara denganku, aku tahu maksudnya. Aku tidak ingin ini terjadi, lebih baik aku katakan sebelum dia yang mengatakan. Ucap batinku
"Maaf Bima.. Aku sudah tau dari Ara, tapi aku tidak ingin berstatus lebih dengan kamu.. Kita ini sahabat..".
"Tapi Dis".
"Udahlah Bim...".
"Tapi aku cuma mau bilang, ini sudah bel masuk, kalau gitu aku masuk kelas dulu ya". Aduh, aku fikir.... Ihhhhh malu-maluin banget deh *berjalan menuju kelas*
***
*melihat kalender*
Satu minggu lagi, Yudha ulang tahun, 17 Agustus *melingkari tanggal dengan spidol* hmm.. Aku buatin dia kue deh. Ucap batinku.
*suara telfon* krriinngg!!!
"Hallo?".
"Gadis, satu minggu lagi ibu pulang, kita akan pindah ke Eropa, selama kurang lebih 4 tahun".
"Tapi gimana dengan sekolah Gadis bu?".
"Semuanya sudah di siapkan, termasuk pindahnya sekolah kamu".
"Yasudah, iya bu".
Kututup telfon dari ibu, aku duduk di sofa ruang tengah sambil memandangi kalender.
Satu minggu lagi, tepat saat ulangtahun Yudha. Setidaknya setelah ini, aku punya kesempatan untuk bisa melupakannya. Ucap batinku.
1 Minggu kemudian.
Ibuku sudah pulang dan sampai rumah pukul 3 pagi. Ternyata aku akan berangkat pukul 10 nanti. Pukul 8.00, aku pergi kerumah Yudha untuk memberikan kue yang sudah dari kemarin aku buat.
"Ibu... Gadis pergi sebentar.. Pukul setengah sepuluh Gadis sudah sampai rumah".
Aku pergi di antar supir, sengaja aku berangkat dari sekarang, karena rumahnya lumayan jauh kalau dari rumahku. Sesampainya aku di depan rumah bercat hijau. Ya, ini rumah Yudha. Untunglah masih sepi *tersenyum tipis* ucap batinku.
Kutaruh kue itu di depan pintu rumahnya. Aku segera pergi sebelum ada orang yang melihatku. Semenjak saat itu, aku tidak pernah bertemu dengannya. Sahabat-sahabatku-pun tidak ada yang tahu kalau akan pindah keluar negeri. Sampai saat ini.
4 tahun kemudian aku kemabali ke indonesia untuk melanjutkan kuliah. Tidak menyangka ternyata dia yang aku sayang, mengenangku.
Aku menghela nafas panjang, tersenyum saat melihat nama itu. Ternyata dia mengenangku. Aku harap, ketika kita betemu. Kita sama-sama sudah bahagia. ucap batinku.

Jumat, 10 Januari 2014

R A S A

Ingin rasanya ku berlari..
Berteriak di tengah derasnya hujan..
Memelukmu di tengah gelapnya malam..

Selasa, 31 Desember 2013

cinta sampai di sini. eps 8 (TAMAT)



Shiyla:”dik, gue kangen banget sama lo”
dika:”iya la, gue udh bisa jawab pertanyaan lo”
shiyla:”hah? Ga nyangka kalo lo masih inget”
dika:”iya la gue masih inget, gue bakal selamatin lo, kalo cinta kan ada aldo, nanti juga di selamatin aldo hahaha”
shiyla:”ah serius... jangan bercanda...”
gue genggam tangan shiyla dan menatap matanya, gatau kenapa itu memebuat perasaan gue ke dia semakin kuat
dika:”mungkin gue emang suka bercanda, tapi kali ini gue serius la, gue ga main main, dan gue ga bohong soal perasaan gue kalo gue cinta sama lo”
shiyla keliatan seneng, dia langsung meluk gue sambil nangis, gue fikir dia nangis bahagia, tapi ternyata gue dapet kabar paling buruk seumur hidup gue

Selasa, 24 Desember 2013

Cinta Sampai Disini eps.7

dika:”la, aku ke kelas dulu ya, da..”shiyla:”iya.. da..”waktu gue menuju ke kelas, gue ngeliat cinta lagi nangis, gue pengen ngehibur dia, tapi gue gamau shiyla ngeliat dan membuat dia sedih, gatau kenapa gue tetep gabisa nahan diri, dan memilih untuk nyamperin cintadika:”cin?? Lo kenapa??”cinta ga menjawab dia Cuma ngeliat gue dan tangisannya ga berentidika:”kalo lo gamau cerita gapapa, lo bisa bersandar di bahu gue ko”cinta bersandar di bahu gue dan meneruskan tangisannya, gue coba buat diem dan membiarkan dia tenang dulu, tapi ga gue sangka, ternyata shiyla memperhatikan gue dan cinta, shiyla keliatan marah dan kecewa, dia nangis dan pergi, gue mau mengejarnya tapi gamungkin gue tinggalin cinta dengan keadaan dia yang kaya gini, setelah cinta tenang, gue coba cari shiyla ke kelasnya, di depan kelasnya gue ketemu temen sekelasnya yang tiba tiba nyerocos gajelas “eh ka dika.. ka dika pasti kesini nyariin aku ya?? Ih ka dika tau aja kalo aku juga lagi nyari kaka” gue jawab “hah? Engga, shiylanya ada ga”, “oh... syilaaa!!!! Cowo lo nyariin nehhh!!! Masuk aja ka”gue masuk dan nyamperin shiyladika:”aku mohon kamu jangan nangis”

Senin, 23 Desember 2013

Cinta Sampai Disni eps.6

mama:”dik, ada yang mau mama omongin”
dika:”apa mah:”
mama:”bulan juli kita pindah rumah dik”
dika:”dimana?”
mama:”mama ada tugas di bali selama 2 tahun”
gue fikir, ini adalah cara supaya gue bisa lupain cinta, walaupun sebenernya gue belum siap untuk jauh dari cinta, setelah lulus gue ngelanjutin kuliah di bali selama 2 tahun, semoga itu cukup buat gue lupain cinta
dika:”yaudah mah, dika ikut mama aja, dika ke kamar ya mah”
Kebesokannya gue sekolah ga semangat banget, hmm... sebelumnya gue gapernah ada di posisi yang kaya gini, ini bener bener sulit buat gue, tapi pas gue lagi jalan, tiba tiba gue ngeliat cinta jalan di depan gue, tapi ternyata cinta ga jalan sendirian, dia jalan sama shiyla, yaampun.. niatnya gue mau menghindar tapi shiyla keburu ngeliat gue dan manggil gue
shiyla:”dika...”

Minggu, 22 Desember 2013

Cinta Sampai Disini eps.5

Dan semenjak kejadian itu gue gapernah ketemu lagi sama cinta.
Keesokan harinya gue ketemu sama shiyla di perpus, shiyla keliatan lagi sedih
dika:”la? Lo kenapa?”
shiyla:”gapapa ko ka”
dika:”jangan bohong.. lo kenapa?”
shiyla:”ka please jangan tanya gue kenapa, yang ada gue jadi makin sedih..”
shiyla meneteskan air matanya dan bersandar di bahu gue, gue paling gasuka ngeliat cewe nangis..
dika:”lo di sakitin?? Siapa yang berani nyakitin lo?? Hah?? Siapa?? Sini berhadapan sama gue! Dia fikir gue berani apa?!”
gue berusaha menghibur shiyla yang sedang sedih
shiyla:”ah lo mah, gue lagi sedih juga malah ngelawak..”
dika:”ya lagian lo kalo nangis jelek tau.. wwwlleee, ngomong ngomong cinta mana?”
Waktu di perpus, gue ngerasa kalau shiyla berusaha untuk deket sama gue lebih dari seorang temen