Selasa, 30 Desember 2014

Secret Admirer


Suatu hari aku pergi ke salah satu toko buku di jakarta, aku memang berniat membeli novel "Secret admirer" judul novel itu menarik minatku, kubaca sinopsis pendek novel yang ada di belakang cover.
Aku tidak pernah mengerti, bagaimana perasaan ini bisa terjadi. Aku tidak pernah meminta, meminta untuk menyangimu. Tuhan... Aku tidak pernah tahu, siapa dirinya, aku tidak mengerti, hanya dengan melihat senyumannya. Rasa itu... Ada. Mungkin aku salah, karena menyayangi seseorang yang sama sekali tidak mengenalku. Tapi rasa ini, membuat aku mengenalmu. Rasa ini membuat aku hafal bagaimana caramu berbicara, tertawa, berjalan, dan tersenyum. Rasanya aku tidak ingin melihatmu tersenyum, tapi bukan berarti aku tidak ingin kamu bahagia. Karena senyummu yang selalu membuatku jatuh cinta. Yudha.. Aku harap kamu tidak akan pernah tahu, siapa aku. Aku tidak berharap kamu akan membalas perasaanku.
Aku yakin, itu surat yang pernah aku tulis untuknya. Saatku lihat biodata penulis "Yudha Ardikatama".
4 tahun yang lalu.
Seperti biasa, sejak 2 bulan yang lalu, aku selalu mengikutinya setiap pulang sekolah. Setiap hari aku datang pagi-pagi sekali untuk menaruh puisi di atas mejanya. Dan bukan hanya mengikutinya setiap pulang sekolah dan mengirimkan puisi, aku juga suka memperhatikannya di sekolah. Ada beberapa hal yang aku tau tentangnya, seperti dia suka makan permen lollipop setiap jam istirahat, dia suka duduk di kursi depan kelasku, dia juga suka olahraga basket, aku juga sudah sangat hafal dengan cara berjalannya, caranya berbicara, caranya tersenyum dan tertawa. Aku menyukainya, tetapi aku tidak ingin dia tahu tentang perasaanku.. aku takut dia akan menjauh dan aku tidak bisa memperhatikannya lagi.
“Gadis...”.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara lantang dari arah belakangku, sudah ku duga, dia pasti Ara. Sahabatku sejak pertama masuk sekolah, kami berkenalan saat pembukaan MOS waktu itu.
Karena mendengar suara itu, aku menoleh kearah belakang dan mencari sumber suara tersebut, tiba-tiba saja aku melihat lambaian tangan Ara untukku. Aku tersenyum kepadanya dan mengisyaratkan agar dia mendekat denganku. Dan ketika Ara hampir mendekatiku, aku kembali menoleh kearah sebelumnya untuk mencari Yudha. Iya Yudha, laki-laki yang aku sebut-sebut tadi. Mataku melirik-lirik mencari keberadaan Yudha, tapi ternyata dia sudah menghilang.
“Nyari siapa sih Dis?”.
“Hah? Bukan siapa-siapa kok, Ra”.
Aku benar-benar tidak ingin ada satu orangpun yang tahu kalau aku menyukai laki-laki itu. Bahkan sahabatku saja tidak tahu, hanya aku, diary, dan Tuhan yang tahu.
***
Aku bahagia dengan hidupku yang seperti sekarang, yang menjadi pengagum rahasianya Yudha. Hmm.. memperhatikan setiap tingkah lakunya menajdi kesenangan tersendiri untukku. Dan rasanya aku tidak ingin berhenti mengaguminya, mungkin aku seperti orang bodong, atauu... aku bodoh karena cinta ya? Hmm apa iya ini cinta? Entahlah.. Yang jelas, aku tidak ingin dia berhenti tersenyum, karena senyumnya selalu membuat aku..... Jatuh Cinta.
Diary ini seperti saksi bisu tentang perasaan ku selama 2 bulan ini. Saat aku sedang duduk di halaman rumah, tiba-tiba saja ada telfon dari Bima salah satu teman sekelasku.
“Iya Bim? Ada apa?”.
“Maaf Gadis, ini Yudha.”.
Apa? Yudha? Aku gasalah dengar kan? Untuk apa dia menelfonku menggunakan handphone Bima?
Tiba-tiba saja banyak sekali pertanyaan di kepalaku.
“Yudha? Ada apa?”.
“Aku mau minjem buku novel yang kamu pinjam di Bima, boleh?”.
Oohh.. ternyata dia hanya ingin meminjam buku milik Bima, pantas saja dia menggunakan Handphone Bima. Ucap Batinku
“Baiklah, besok akan ku titip di Bima”.
***
Keesokan harinya, saat aku sudah sampai di sekolah, Ara memanggilku dari jauh, akupun segera menoleh dan mencari sumber suara tersebut. Dia melambaikan tangannya dan berlari kerahku.
"Hai Ra.. Kayanya hari ini ada yang lagi seneng banget yaaa..". Kataku sedikit meledeknya.
"Ah, tidaakk... Oiya, aku ingin memberitahumu, kalau sekarang aku sudah punya pacar lhooo...".
"Oya? Siapa? Cie Araaa...". Aku dan Ara tertawa di jalan seperti orang aneh.
"Namanya Yudha.. Itu lho yang anak XI IPA 2". Aku terdiam saat mendengar kabar itu.
Aku berhenti berjalan, membiarkan sahabatku berjalan sendiri. Bibirku bergetar, wajahku berubah menjadi pucat, aku bisa merasakan di seluruh tubuhku terasa sangat dingin. Kupejamkan mata sejenak, berharap saat aku membuka mata, aku terbangun dari mimpi ini. Tapi ternyata, saat aku membuka mata, setetes air dari mata itu mengalir. Aku membalikan tubuhku, aku berlari menuju gerbang sekolah, aku ingin pulang. Aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan sangat keras, aku tahu itu adalah Ara.
Maafkan aku Ara, aku tidak bermaksud mengabaikanmu, aku hanya tidak ingin kamu tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Ucap batinku.
Sesampainya aku dirumah, aku segera berganti pakaian. Untung saja ibu lagi diluar kota ucap batinku. Saat aku ingin mengambil minum, terdengar suara telefon.
*mengangkat telfon*
"Hallo..".
"Gadis, tadi gurumu menelfon ibu, katanya kamu tidak sekolah hari ini. Memangnya ada apa?". Aku tahu, ibuku menelfon bukan karena berfikiran yang tidak-tidak tentang anaknya ini. Melainkan, karena dia sedang khawatir.
"Iya ibu.. Tiba-tiba saja Gadis tidak enak badan.. Makanya tadi Gadis tidak sekolah".
"Yasudah, kalau begitu.. Ibu minta maaf ya, ibu tidak bisa merawat kamu sekarang..".
"Iya bu.. Gapapa".
"Yasudah, kamu hati-hati ya Dis dirumah".
"Iya, Ibu juga hati-hati ya di sana".
***
"Dis, kemarin kenapa sih kamu pulang?". Kata Ara khawatir.
"Aku gapapa Ra, cuma gaenak badan aja". Kataku nyaris tidak terdengar.
"Ohh.. Gitu, kamu tahu tidak? Bima itu menyukaimu". Kata Ara berbisik. Aku terkejut mendengar kabar yang menurutku tidak baik, iya itu tidak baik.. Bima adalah sahabatku, selain Ara. Mana mungkin Bima menyukaiku. Ucap batinku.
"Ra, aku ketoilet dulu".
"Lho? Kok malah pergi sih?".
***
"Gadis, ko bengong?". Aku mendengar ada suara yang aku kenal, suara itu. Tidak, itu bukan Yudha, tapi Bima.
"Bima? Gapapa kok". Jawabku tersenyum, nyaris terpaksa.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Dis".
Hah? Bima ingin berbicara denganku, aku tahu maksudnya. Aku tidak ingin ini terjadi, lebih baik aku katakan sebelum dia yang mengatakan. Ucap batinku
"Maaf Bima.. Aku sudah tau dari Ara, tapi aku tidak ingin berstatus lebih dengan kamu.. Kita ini sahabat..".
"Tapi Dis".
"Udahlah Bim...".
"Tapi aku cuma mau bilang, ini sudah bel masuk, kalau gitu aku masuk kelas dulu ya". Aduh, aku fikir.... Ihhhhh malu-maluin banget deh *berjalan menuju kelas*
***
*melihat kalender*
Satu minggu lagi, Yudha ulang tahun, 17 Agustus *melingkari tanggal dengan spidol* hmm.. Aku buatin dia kue deh. Ucap batinku.
*suara telfon* krriinngg!!!
"Hallo?".
"Gadis, satu minggu lagi ibu pulang, kita akan pindah ke Eropa, selama kurang lebih 4 tahun".
"Tapi gimana dengan sekolah Gadis bu?".
"Semuanya sudah di siapkan, termasuk pindahnya sekolah kamu".
"Yasudah, iya bu".
Kututup telfon dari ibu, aku duduk di sofa ruang tengah sambil memandangi kalender.
Satu minggu lagi, tepat saat ulangtahun Yudha. Setidaknya setelah ini, aku punya kesempatan untuk bisa melupakannya. Ucap batinku.
1 Minggu kemudian.
Ibuku sudah pulang dan sampai rumah pukul 3 pagi. Ternyata aku akan berangkat pukul 10 nanti. Pukul 8.00, aku pergi kerumah Yudha untuk memberikan kue yang sudah dari kemarin aku buat.
"Ibu... Gadis pergi sebentar.. Pukul setengah sepuluh Gadis sudah sampai rumah".
Aku pergi di antar supir, sengaja aku berangkat dari sekarang, karena rumahnya lumayan jauh kalau dari rumahku. Sesampainya aku di depan rumah bercat hijau. Ya, ini rumah Yudha. Untunglah masih sepi *tersenyum tipis* ucap batinku.
Kutaruh kue itu di depan pintu rumahnya. Aku segera pergi sebelum ada orang yang melihatku. Semenjak saat itu, aku tidak pernah bertemu dengannya. Sahabat-sahabatku-pun tidak ada yang tahu kalau akan pindah keluar negeri. Sampai saat ini.
4 tahun kemudian aku kemabali ke indonesia untuk melanjutkan kuliah. Tidak menyangka ternyata dia yang aku sayang, mengenangku.
Aku menghela nafas panjang, tersenyum saat melihat nama itu. Ternyata dia mengenangku. Aku harap, ketika kita betemu. Kita sama-sama sudah bahagia. ucap batinku.

0 komentar:

Posting Komentar