Suatu hari aku pergi ke salah satu toko buku di jakarta, aku memang berniat membeli novel "Secret admirer" judul novel itu menarik minatku, kubaca sinopsis pendek novel yang ada di belakang cover.
Aku tidak
pernah mengerti, bagaimana perasaan ini bisa terjadi. Aku tidak pernah meminta,
meminta untuk menyangimu. Tuhan... Aku tidak pernah tahu, siapa dirinya, aku
tidak mengerti, hanya dengan melihat senyumannya. Rasa itu... Ada. Mungkin aku
salah, karena menyayangi seseorang yang sama sekali tidak mengenalku. Tapi rasa
ini, membuat aku mengenalmu. Rasa ini membuat aku hafal bagaimana caramu
berbicara, tertawa, berjalan, dan tersenyum. Rasanya aku tidak ingin melihatmu
tersenyum, tapi bukan berarti aku tidak ingin kamu bahagia. Karena senyummu
yang selalu membuatku jatuh cinta. Yudha.. Aku harap kamu tidak akan pernah
tahu, siapa aku. Aku tidak berharap kamu akan membalas perasaanku.
Aku yakin,
itu surat yang pernah aku tulis untuknya. Saatku lihat biodata penulis
"Yudha Ardikatama".
4 tahun yang lalu.
Seperti
biasa, sejak 2 bulan yang lalu, aku selalu mengikutinya setiap pulang sekolah.
Setiap hari aku datang pagi-pagi sekali untuk menaruh puisi di atas mejanya.
Dan bukan hanya mengikutinya setiap pulang sekolah dan mengirimkan puisi, aku
juga suka memperhatikannya di sekolah. Ada beberapa hal yang aku tau
tentangnya, seperti dia suka makan permen lollipop setiap jam istirahat, dia
suka duduk di kursi depan kelasku, dia juga suka olahraga basket, aku juga
sudah sangat hafal dengan cara berjalannya, caranya berbicara, caranya
tersenyum dan tertawa. Aku menyukainya, tetapi aku tidak ingin dia tahu tentang
perasaanku.. aku takut dia akan menjauh dan aku tidak bisa memperhatikannya
lagi.
“Gadis...”.
Tiba-tiba
saja aku mendengar suara lantang dari arah belakangku, sudah ku duga, dia pasti
Ara. Sahabatku sejak pertama masuk sekolah, kami berkenalan saat pembukaan MOS
waktu itu.
Karena
mendengar suara itu, aku menoleh kearah belakang dan mencari sumber suara tersebut,
tiba-tiba saja aku melihat lambaian tangan Ara untukku. Aku tersenyum kepadanya
dan mengisyaratkan agar dia mendekat denganku. Dan ketika Ara hampir
mendekatiku, aku kembali menoleh kearah sebelumnya untuk mencari Yudha. Iya
Yudha, laki-laki yang aku sebut-sebut tadi. Mataku melirik-lirik mencari
keberadaan Yudha, tapi ternyata dia sudah menghilang.
“Nyari
siapa sih Dis?”.
“Hah?
Bukan siapa-siapa kok, Ra”.
Aku
benar-benar tidak ingin ada satu orangpun yang tahu kalau aku menyukai
laki-laki itu. Bahkan sahabatku saja tidak tahu, hanya aku, diary, dan Tuhan
yang tahu.
***
Aku
bahagia dengan hidupku yang seperti sekarang, yang menjadi pengagum rahasianya
Yudha. Hmm.. memperhatikan setiap tingkah lakunya menajdi kesenangan tersendiri
untukku. Dan rasanya aku tidak ingin berhenti mengaguminya, mungkin aku seperti
orang bodong, atauu... aku bodoh karena cinta ya? Hmm apa iya ini cinta?
Entahlah.. Yang jelas, aku tidak ingin dia berhenti tersenyum, karena senyumnya
selalu membuat aku..... Jatuh Cinta.
Diary ini
seperti saksi bisu tentang perasaan ku selama 2 bulan ini. Saat aku sedang
duduk di halaman rumah, tiba-tiba saja ada telfon dari Bima salah satu teman
sekelasku.
“Iya Bim?
Ada apa?”.
“Maaf
Gadis, ini Yudha.”.
Apa? Yudha?
Aku gasalah dengar kan? Untuk apa dia menelfonku menggunakan handphone Bima?
Tiba-tiba saja banyak sekali pertanyaan di kepalaku.
Tiba-tiba saja banyak sekali pertanyaan di kepalaku.
“Yudha?
Ada apa?”.
“Aku mau
minjem buku novel yang kamu pinjam di Bima, boleh?”.
Oohh..
ternyata dia hanya ingin meminjam buku milik Bima, pantas saja dia menggunakan
Handphone Bima. Ucap Batinku
“Baiklah,
besok akan ku titip di Bima”.
***
Keesokan
harinya, saat aku sudah sampai di sekolah, Ara memanggilku dari jauh, akupun
segera menoleh dan mencari sumber suara tersebut. Dia melambaikan tangannya dan
berlari kerahku.
"Hai
Ra.. Kayanya hari ini ada yang lagi seneng banget yaaa..". Kataku sedikit
meledeknya.
"Ah,
tidaakk... Oiya, aku ingin memberitahumu, kalau sekarang aku sudah punya pacar
lhooo...".
"Oya?
Siapa? Cie Araaa...". Aku dan Ara tertawa di jalan seperti orang aneh.
"Namanya
Yudha.. Itu lho yang anak XI IPA 2". Aku terdiam saat mendengar kabar itu.
Aku
berhenti berjalan, membiarkan sahabatku berjalan sendiri. Bibirku bergetar,
wajahku berubah menjadi pucat, aku bisa merasakan di seluruh tubuhku terasa
sangat dingin. Kupejamkan mata sejenak, berharap saat aku membuka mata, aku
terbangun dari mimpi ini. Tapi ternyata, saat aku membuka mata, setetes air
dari mata itu mengalir. Aku membalikan tubuhku, aku berlari menuju gerbang
sekolah, aku ingin pulang. Aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan
sangat keras, aku tahu itu adalah Ara.
Maafkan
aku Ara, aku tidak bermaksud mengabaikanmu, aku hanya tidak ingin kamu tahu
kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Ucap batinku.
Sesampainya
aku dirumah, aku segera berganti pakaian. Untung
saja ibu lagi diluar kota ucap batinku. Saat aku ingin mengambil minum,
terdengar suara telefon.
*mengangkat telfon*
"Hallo..".
"Gadis,
tadi gurumu menelfon ibu, katanya kamu tidak sekolah hari ini. Memangnya ada
apa?". Aku tahu, ibuku menelfon bukan karena berfikiran yang tidak-tidak
tentang anaknya ini. Melainkan, karena dia sedang khawatir.
"Iya
ibu.. Tiba-tiba saja Gadis tidak enak badan.. Makanya tadi Gadis tidak
sekolah".
"Yasudah,
kalau begitu.. Ibu minta maaf ya, ibu tidak bisa merawat kamu sekarang..".
"Iya
bu.. Gapapa".
"Yasudah,
kamu hati-hati ya Dis dirumah".
"Iya,
Ibu juga hati-hati ya di sana".
***
"Dis,
kemarin kenapa sih kamu pulang?". Kata Ara khawatir.
"Aku
gapapa Ra, cuma gaenak badan aja". Kataku nyaris tidak terdengar.
"Ohh..
Gitu, kamu tahu tidak? Bima itu menyukaimu". Kata Ara berbisik. Aku
terkejut mendengar kabar yang menurutku tidak baik, iya itu tidak baik.. Bima adalah sahabatku, selain Ara. Mana
mungkin Bima menyukaiku. Ucap batinku.
"Ra,
aku ketoilet dulu".
"Lho?
Kok malah pergi sih?".
***
"Gadis,
ko bengong?". Aku mendengar ada suara yang aku kenal, suara itu. Tidak, itu
bukan Yudha, tapi Bima.
"Bima?
Gapapa kok". Jawabku tersenyum, nyaris terpaksa.
"Aku
mau ngomong sesuatu sama kamu, Dis".
Hah? Bima
ingin berbicara denganku, aku tahu maksudnya. Aku tidak ingin ini terjadi,
lebih baik aku katakan sebelum dia yang mengatakan. Ucap
batinku
"Maaf
Bima.. Aku sudah tau dari Ara, tapi aku tidak ingin berstatus lebih dengan
kamu.. Kita ini sahabat..".
"Tapi
Dis".
"Udahlah
Bim...".
"Tapi
aku cuma mau bilang, ini sudah bel masuk, kalau gitu aku masuk kelas dulu
ya". Aduh, aku fikir.... Ihhhhh
malu-maluin banget deh *berjalan menuju kelas*
***
*melihat kalender*
Satu minggu lagi, Yudha ulang tahun, 17 Agustus *melingkari tanggal dengan spidol* hmm.. Aku buatin dia kue deh. Ucap batinku.
Satu minggu lagi, Yudha ulang tahun, 17 Agustus *melingkari tanggal dengan spidol* hmm.. Aku buatin dia kue deh. Ucap batinku.
*suara telfon* krriinngg!!!
"Hallo?".
"Gadis,
satu minggu lagi ibu pulang, kita akan pindah ke Eropa, selama kurang lebih 4
tahun".
"Tapi
gimana dengan sekolah Gadis bu?".
"Semuanya
sudah di siapkan, termasuk pindahnya sekolah kamu".
"Yasudah,
iya bu".
Kututup
telfon dari ibu, aku duduk di sofa ruang tengah sambil memandangi kalender.
Satu minggu lagi, tepat saat ulangtahun Yudha. Setidaknya setelah ini, aku punya kesempatan untuk bisa melupakannya. Ucap batinku.
Satu minggu lagi, tepat saat ulangtahun Yudha. Setidaknya setelah ini, aku punya kesempatan untuk bisa melupakannya. Ucap batinku.
1 Minggu kemudian.
Ibuku
sudah pulang dan sampai rumah pukul 3 pagi. Ternyata aku akan berangkat pukul
10 nanti. Pukul 8.00, aku pergi kerumah Yudha untuk memberikan kue yang sudah
dari kemarin aku buat.
"Ibu...
Gadis pergi sebentar.. Pukul setengah sepuluh Gadis sudah sampai rumah".
Aku pergi
di antar supir, sengaja aku berangkat dari sekarang, karena rumahnya lumayan
jauh kalau dari rumahku. Sesampainya aku di depan rumah bercat hijau. Ya, ini rumah Yudha. Untunglah masih sepi
*tersenyum tipis* ucap batinku.
Kutaruh
kue itu di depan pintu rumahnya. Aku segera pergi sebelum ada orang yang
melihatku. Semenjak saat itu, aku tidak pernah bertemu dengannya.
Sahabat-sahabatku-pun tidak ada yang tahu kalau akan pindah keluar negeri.
Sampai saat ini.
4 tahun
kemudian aku kemabali ke indonesia untuk melanjutkan kuliah. Tidak menyangka
ternyata dia yang aku sayang, mengenangku.
Aku menghela nafas panjang, tersenyum saat melihat nama itu. Ternyata dia mengenangku. Aku harap, ketika kita betemu. Kita sama-sama sudah bahagia. ucap batinku.
Aku menghela nafas panjang, tersenyum saat melihat nama itu. Ternyata dia mengenangku. Aku harap, ketika kita betemu. Kita sama-sama sudah bahagia. ucap batinku.